<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7317681484161636078</id><updated>2011-04-21T14:45:12.599-07:00</updated><title type='text'>puisibahasauniversal</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://puisibahasauniversal.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7317681484161636078/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puisibahasauniversal.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>puisi sebuah bahasa universal</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_Ou5tei3QShg/SDvR2bJWZ-I/AAAAAAAAAAc/dBty1r1GHAo/S220/w4_800.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>3</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7317681484161636078.post-556788577042644636</id><published>2008-05-27T01:34:00.001-07:00</published><updated>2008-05-27T01:35:53.759-07:00</updated><title type='text'>Puisi-Puisi Ada Apa Dengan Cinta ?</title><content type='html'>Puisi-Puisi Ada Apa Dengan Cinta ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Rako Prijanto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi 1&lt;br /&gt;Ketika tunas ini tumbuh&lt;br /&gt;Serupa tubuh yang mengakar&lt;br /&gt;Setiap nafas yang terhembus adalah kata&lt;br /&gt;Angan, debur dan emosi&lt;br /&gt;Bersatu dalam jubah terpautan&lt;br /&gt;Tangan kita terikat&lt;br /&gt;Lidah kita menyatu&lt;br /&gt;Maka apa terucap adalah sabda pendita ratu&lt;br /&gt;Ahh.. diluar itu pasir diluar itu debu&lt;br /&gt;Hanya angin meniup saja&lt;br /&gt;Lalu terbang hilang tak ada&lt;br /&gt;Tapi kita tetap menari&lt;br /&gt;Menari cuma kita yg tau&lt;br /&gt;Jiwa ini tandu maka duduk saja&lt;br /&gt;Maka akan kita bawa&lt;br /&gt;Semua&lt;br /&gt;Karena..&lt;br /&gt;Kita..&lt;br /&gt;Adalah..&lt;br /&gt;SATU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi 2&lt;br /&gt;Kulari ke hutan kemudian menyanyiku&lt;br /&gt;Kulari ke pantai kemudian teriakku&lt;br /&gt;Sepi... sepi dan sendiri aku benci&lt;br /&gt;Ingin bingar aku mau dipasar&lt;br /&gt;Bosan aku dengan penat&lt;br /&gt;Enyah saja engkau pekat&lt;br /&gt;Seperti berjelaga jika kusendiri&lt;br /&gt;Pecahkan saja gelasnya biar ramai&lt;br /&gt;Biar mengaduh sampai gaduh&lt;br /&gt;Ada malaikat menyulam jaring laba-laba belang ditembok keraton putih&lt;br /&gt;Kenapa tak goyangkan saja loncengnya biar terdera&lt;br /&gt;Atau aku harus lari ke hutan belok ke pantai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi 3&lt;br /&gt;Perempuan datang atas nama cinta&lt;br /&gt;Bunda pergi karena cinta&lt;br /&gt;Digenangi air racun jingga adalah wajahmu&lt;br /&gt;Seperti bulan lelap tidur dihatimu&lt;br /&gt;Yang berdinding kelam dan kedinginan&lt;br /&gt;Ada apa dengannya&lt;br /&gt;Meninggalkan hati untuk dicaci&lt;br /&gt;Baru sekali ini aku melihat karya surga dalam mata seorang hawa&lt;br /&gt;Ada apa dengan cinta&lt;br /&gt;Tapi aku pasti akan kembali&lt;br /&gt;Dalam satu purnama&lt;br /&gt;Untuk mempertanyakan kembali cintanya&lt;br /&gt;Bukan untuknya&lt;br /&gt;Bukan untuk siapa&lt;br /&gt;Tapi untukku&lt;br /&gt;Karena aku ingin kamu&lt;br /&gt;Itu saja&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7317681484161636078-556788577042644636?l=puisibahasauniversal.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puisibahasauniversal.blogspot.com/feeds/556788577042644636/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7317681484161636078&amp;postID=556788577042644636' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7317681484161636078/posts/default/556788577042644636'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7317681484161636078/posts/default/556788577042644636'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puisibahasauniversal.blogspot.com/2008/05/puisi-puisi-ada-apa-dengan-cinta.html' title='Puisi-Puisi Ada Apa Dengan Cinta ?'/><author><name>puisi sebuah bahasa universal</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_Ou5tei3QShg/SDvR2bJWZ-I/AAAAAAAAAAc/dBty1r1GHAo/S220/w4_800.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7317681484161636078.post-3179534271836143018</id><published>2008-05-27T01:32:00.000-07:00</published><updated>2008-05-27T01:33:32.961-07:00</updated><title type='text'>PUDARNYA PESONA CLEOPATRA</title><content type='html'>PUDARNYA PESONA CLEOPATRA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan panjang lebar ibu menjelaskan, sebenarnya sejak ada dalan kandungan&lt;br /&gt;aku telah dijodohkan dengan Raihana yang tak pernah kukenal.” Ibunya Raihana&lt;br /&gt;adalah teman karib ibu waktu nyantri di pesantren Mangkuyudan Solo dulu”&lt;br /&gt;kata ibu.”Kami pernah berjanji, jika dikarunia anak berlainan jenis akan&lt;br /&gt;besanan untuk memperteguh tali persaudaraan. Karena itu ibu mohon&lt;br /&gt;keikhlasanmu”, ucap beliau dengan nada mengiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pergulatan jiwa yang sulit berhari-hari, akhirnya aku pasrah. Aku&lt;br /&gt;menuruti keinginan ibu. Aku tak mau mengecewakan ibu. Aku ingin menjadi&lt;br /&gt;mentari pagi dihatinya, meskipun untuk itu aku harus mengorbankan diriku.&lt;br /&gt;Dengan hati pahit kuserahkan semuanya bulat-bulat pada ibu. Meskipun&lt;br /&gt;sesungguhnya dalam hatiku timbul kecemasan-kecemasan yang datang begitu saja&lt;br /&gt;dan tidak tahu alasannya. Yang jelas aku sudah punya kriteria dan impian&lt;br /&gt;tersendiri untuk calon istriku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa berhadapan&lt;br /&gt;dengan air mata ibu yang amat kucintai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat khitbah (lamaran) sekilas kutatap wajah Raihana, benar kata Aida&lt;br /&gt;adikku, ia memang baby face dan anggun. Namun garis-garis kecantikan yang&lt;br /&gt;kuinginkan tak kutemukan sama sekali. Adikku, tante Lia mengakui Raihana&lt;br /&gt;cantik, “cantiknya alami, bisa jadi bintang iklan Lux lho, asli ! kata tante&lt;br /&gt;Lia. Tapi penilaianku lain, mungkin karena aku begitu hanyut dengan&lt;br /&gt;gadis-gadis Mesir titisan Cleopatra, yang tinggi semampai, wajahnya putih&lt;br /&gt;jelita, dengan hidung melengkung indah, mata bulat bening khas arab, dan&lt;br /&gt;bibir yang merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hari-hari menjelang pernikahanku, aku berusaha menumbuhkan bibit-bibit&lt;br /&gt;cintaku untuk calon istriku, tetapi usahaku selalu sia-sia. Aku ingin&lt;br /&gt;memberontak pada ibuku, tetapi wajah teduhnya meluluhkanku. Hari pernikahan&lt;br /&gt;datang. Duduk dipelaminan bagai mayat hidup, hati hampa tanpa cinta,&lt;br /&gt;Pestapun meriah dengan hiburan group rebana. Lantunan shalawat Nabipun&lt;br /&gt;terasa menusuk-nusuk hati. Kulihat Raihana tersenyum manis, tetapi hatiku&lt;br /&gt;terasa teriris-iris dan jiwaku meronta. Satu-satunya harapanku adalah&lt;br /&gt;mendapat berkah dari Allah SWT atas baktiku pada ibuku yang kucintai.&lt;br /&gt;Rabbighfir li wa liwalidayya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Layaknya pengantin baru, kupaksakan untuk mesra tapi bukan cinta, hanya&lt;br /&gt;sekedar karena aku seorang manusia yang terbiasa membaca ayat-ayatNya.&lt;br /&gt;Raihana tersenyum mengembang, hatiku menangisi kebohonganku dan&lt;br /&gt;kepura-puraanku. Tepat dua bulan Raihana kubawa ke kontrakan dipinggir kota&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malang. Mulailah kehidupan hampa. Aku tak menemukan adanya gairah. Betapa&lt;br /&gt;susah hidup berkeluarga tanpa cinta. Makan, minum, tidur, dan shalat bersama&lt;br /&gt;dengan makhluk yang bernama Raihana, istriku, tapi Masya Allah bibit cintaku&lt;br /&gt;belum juga tumbuh. Suaranya yang lembut terasa hambar, wajahnya yang teduh&lt;br /&gt;tetap terasa asing. Memasuki bulan keempat, rasa muak hidup bersama Raihana&lt;br /&gt;mulai kurasakan, rasa ini muncul begitu saja. Aku mencoba membuang jauh-jauh&lt;br /&gt;rasa tidak baik ini, apalagi pada istri sendiri yang seharusnya kusayang dan&lt;br /&gt;kucintai. Sikapku pada Raihana mulai lain. Aku lebih banyak diam, acuh tak&lt;br /&gt;acuh, agak sinis, dan tidur pun lebih banyak di ruang tamu atau ruang&lt;br /&gt;kerja.Aku merasa hidupku adalah sia-sia, belajar di luar negeri sia-sia,&lt;br /&gt;pernikahanku sia-sia, keberadaanku sia-sia. Tidak hanya aku yang tersiksa,&lt;br /&gt;Raihanapun merasakan hal yang sama, karena ia orang yang berpendidikan, maka&lt;br /&gt;diapun tanya, tetapi kujawab ” tidak apa-apa koq mbak, mungkin aku belum&lt;br /&gt;dewasa, mungkin masih harus belajar berumah tangga”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kekagetan yang kutangkap diwajah Raihana ketika kupanggil ‘mbak’, “&lt;br /&gt;kenapa mas memanggilku mbak, aku&lt;br /&gt;kan istrimu, apa mas sudah tidak&lt;br /&gt;mencintaiku” tanyanya dengan guratan wajah yang sedih. “wallahu a’lam”&lt;br /&gt;jawabku sekenanya. Dengan mata berkaca-kaca Raihana diam menunduk, tak lama&lt;br /&gt;kemudian dia terisak-isak sambil memeluk kakiku, “Kalau mas tidak&lt;br /&gt;mencintaiku, tidak menerimaku sebagai istri kenapa mas ucapkan akad nikah?&lt;br /&gt;Kalau dalam tingkahku melayani mas masih ada yang kurang berkenan, kenapa&lt;br /&gt;mas tidak bilang dan menegurnya, kenapa mas diam saja, aku harus bersikap&lt;br /&gt;bagaimana untuk membahagiakan mas, kumohon bukalah sedikit hatimu untuk&lt;br /&gt;menjadi ruang bagi pengabdianku, bagi menyempurnakan ibadahku didunia ini”.&lt;br /&gt;Raihana mengiba penuh pasrah. Aku menangis menitikan air mata buka karena&lt;br /&gt;Raihana tetapi karena kepatunganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari terus berjalan, tetapi komunikasi kami tidak berjalan. Kami hidup&lt;br /&gt;seperti orang asing tetapi Raihana tetap melayaniku menyiapkan segalanya&lt;br /&gt;untukku. Suatu sore aku pulang mengajar dan kehujanan, sampai dirumah habis&lt;br /&gt;maghrib, bibirku pucat, perutku belum kemasukkan apa-apa kecuali segelas&lt;br /&gt;kopi buatan Raihana tadi pagi. Memang aku berangkat pagi karena ada janji&lt;br /&gt;dengan teman. Raihana memandangiku dengan khawatir. “Mas tidak apa-apa”&lt;br /&gt;tanyanya dengan perasaan kuatir. “Mas mandi dengan air panas saja, aku&lt;br /&gt;sedang menggodoknya,&lt;br /&gt;lima menit lagi mendidih” lanjutnya. Aku melepas semua&lt;br /&gt;pakaian yang basah. “Mas airnya sudah siap” kata Raihana. Aku tak bicara&lt;br /&gt;sepatah katapun, aku langsung ke kamar mandi, aku lupa membawa handuk,&lt;br /&gt;tetapi Raihana telah berdiri didepan pintu membawa handuk. “Mas aku buatkan&lt;br /&gt;wedang jahe”. Aku diam saja. Aku merasa mulas dan mual dalam perutku tak&lt;br /&gt;bisa kutahan. Dengan cepat aku berlari ke kamar mandi dan Raihana mengejarku&lt;br /&gt;dan memijit-mijit pundak dan tengkukku seperti yang dilakukan ibu. ” Mas&lt;br /&gt;masuk angin. Biasanya kalau masuk angin diobati pakai apa, pakai balsam,&lt;br /&gt;minyak putih, atau jamu?” tanya Raihana sambil menuntunku ke kamar. “Mas&lt;br /&gt;jangan diam saja dong, aku&lt;br /&gt;kan tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk&lt;br /&gt;membantu Mas”. “Biasanya dikerokin” jawabku lirih. ” Kalau begitu kaos mas&lt;br /&gt;dilepas ya, biar Hana kerokin” sahut Raihana sambiltangannya melepas kaosku.&lt;br /&gt;Aku seperti anak kecil yang dimanja ibunya. Raihana dengan sabar mengerokin&lt;br /&gt;punggungku dengan sentuhan tangannya yanghalus. Setelah selesai dikerokin,&lt;br /&gt;Raihana membawakanku semangkok buburkacang hijau. Setelah itu aku merebahkan&lt;br /&gt;diri di tempat tidur. KulihatRaihana duduk di kursi tak jauh dari tempat&lt;br /&gt;tidur sambil menghafal Al Quran dengan khusyu. Aku kembali sedih dan ingin&lt;br /&gt;menangis, Raihana manis tapi tak semanis gadis-gadis mesir titisan&lt;br /&gt;Cleopatra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tidur aku bermimpi bertemu dengan Cleopatra, ia mengundangku untuk&lt;br /&gt;makan malam di istananya.”Aku punya keponakan namanya Mona Zaki, nanti akan&lt;br /&gt;aku perkenalkan denganmu”kata Ratu Cleopatra. ” Dia memintaku untuk&lt;br /&gt;mencarikannya seorang pangeran,aku melihatmu cocok dan berniat&lt;br /&gt;memperkenalkannya denganmu”. Aku mempersiapkan segalanya. Tepat pukul 07.00&lt;br /&gt;aku datang ke istana, kulihat Mona Zaki dengan pakaian pengantinnya, cantik&lt;br /&gt;sekali. Sang ratu mempersilakanakududuk di kursi yang berhias berlian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melangkah maju, belum sempat duduk,tiba-tiba ” Mas, bangun, sudah jam&lt;br /&gt;setengah empat, mas belum sholat Isya”kata Raihana membangunkanku. Aku&lt;br /&gt;terbangun dengan perasaan kecewa. “Maafkanaku Mas, membuat Mas kurang suka,&lt;br /&gt;tetapi Mas belum sholat Isya” lirih Hanasambil melepas mukenanya, mungkin&lt;br /&gt;dia baru selesai sholat malam. Meskipuncuman mimpi tapi itu indah sekali,&lt;br /&gt;tapi sayang terputus. Aku jadi semakin tidak suka sama dia, dialah pemutus&lt;br /&gt;harapanku dan mimpi-mimpiku. Tapi apakah dia bersalah, bukankah dia berbuat&lt;br /&gt;baik membangunkanku untuk sholat Isya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya aku merasa sulit hidup bersama Raihana, aku tidak tahu dari mana&lt;br /&gt;sulitnya. Rasa tidak suka semakin menjadi-jadi. Aku benar-benar terpenjara&lt;br /&gt;dalam suasana konyol. Aku belum bisa menyukai Raihana. Aku sendiri&lt;br /&gt;belumpernah jatuh cinta, entah kenapa bisa dijajah pesona gadis-gadis&lt;br /&gt;titisanCleopatra.” Mas, nanti sore ada acara qiqah di rumah Yu Imah. Semua&lt;br /&gt;keluarga akandatang termasuk ibundamu. Kita diundang juga. Yuk, kita datang&lt;br /&gt;bareng,tidakenak kalau kita yang dieluk-elukan keluarga tidak datang”&lt;br /&gt;Suara lembutRaihana menyadarkan pengembaraanku pada Jaman Ibnu Hazm.&lt;br /&gt;Pelan-pelan ia letakkan nampan yang berisi onde-onde kesukaanku dan segelas&lt;br /&gt;wedang jahe. Tangannya yang halus agak gemetar. Aku dingin-dingin saja.&lt;br /&gt;“Maaf jika mengganggu Mas, maafkan Hana,” lirihnya, lalu perlahan-lahan&lt;br /&gt;beranjak meninggalkan aku di ruang kerja. “Mbak! Eh maaf, maksudku… Dinda&lt;br /&gt;Hana!, panggilku dengan suara parau tercekak dalam tenggorokan. ” Ya&lt;br /&gt;Mas!”sahut Hana langsung menghentikan langkahnya dan pelan-pelan&lt;br /&gt;menghadapkan dirinya padaku. Ia berusaha untuk tersenyum, agaknya ia bahagia&lt;br /&gt;dipanggil “dinda”. ” Matanya sedikit berbinar. “Terima kasih dinda, kita&lt;br /&gt;berangkat bareng kesana, habis sholat dhuhur, insya Allah,” ucapku sambil&lt;br /&gt;menatap wajah Hana dengan senyum yang kupaksakan. Raihana menatapku dengan&lt;br /&gt;wajah sangat cerah, ada secercah senyum bersinar dibibirnya. “Terima kasih&lt;br /&gt;Mas, Ibu kita pasti senang, mau pakai baju yang mana Mas, biar dinda&lt;br /&gt;siapkan? Atau biar dinda saja yang memilihkan ya?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hana begitu bahagia. Perempuan berjilbab ini memang luar biasa, Ia tetap&lt;br /&gt;sabar mencurahkan bakti meskipun aku dingin dan acuh tak acuh padanya selama&lt;br /&gt;ini. Aku belum pernah melihatnya memasang wajah masam atau tidak suka&lt;br /&gt;padaku. Kalau wajah sedihnya ya. Tapi wajah tidak sukanya belum pernah. Bah,&lt;br /&gt;lelaki macam apa aku ini, kutukku pada diriku sendiri. Aku memaki-maki&lt;br /&gt;diriku sendiri atas sikapdinginku selama ini., Tapi, setetes embun cinta&lt;br /&gt;yang kuharapkan membasahi hatiku tak juga turun. Kecantikan aura titisan&lt;br /&gt;Cleopatra itu? Bagaimana aku mengusirnya. Aku merasa menjadi orang yang&lt;br /&gt;paling membenci diriku sendiri didunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara pengajian dan qiqah putra ketiga Fatimah kakak sulung Raihana membawa&lt;br /&gt;sejarah baru lembaran pernikahan kami. Benar dugaan Raihana,&lt;br /&gt;kamidielu-elukan keluarga, disambut hangat, penuh cinta, dan penuh bangga.&lt;br /&gt;“Selamat datang pengantin baru! Selamat datang pasangan yang paling ideal&lt;br /&gt;dalam keluarga! Sambut Yu Imah disambut tepuk tangan bahagia mertua dan&lt;br /&gt;ibundaku serta kerabat yang lain. Wajah Raihana cerah. Matanya&lt;br /&gt;berbinar-binar bahagia. Lain dengan aku, dalam hatiku menangis disebut&lt;br /&gt;pasangan ideal. Apanya yang ideal. Apa karena aku lulusan Mesir dan Raihana&lt;br /&gt;lulusan terbaik dikampusnya dan hafal Al Quran lantas disebut ideal? Ideal&lt;br /&gt;bagiku adalah seperti Ibnu Hazm dan istrinya, saling memiliki rasa cinta&lt;br /&gt;yang sampai pada pengorbanan satu sama lain. Rasa cinta yang tidak lagi&lt;br /&gt;memungkinkan adanya pengkhianatan. Rasa cinta yang dari detik ke detik&lt;br /&gt;meneteskan rasa bahagia. Tapi diriku? Aku belum bisa memiliki cinta seperti&lt;br /&gt;yang dimiliki Raihana. Sambutan sanak saudara pada kami benar-benar&lt;br /&gt;hangat.Aku dibuat kaget oleh sikap Raihana yang begitu kuat menjaga&lt;br /&gt;kewibawaanku dimata keluarga. Pada ibuku dan semuanya tidak pernah&lt;br /&gt;diceritakan, kecuali menyanjung kebaikanku sebagai seorang suami yang&lt;br /&gt;dicintainya. Bahkan ia mengaku bangga dan bahagia menjadi istriku. Aku&lt;br /&gt;sendiri dibuat pusing dengan sikapku. Lebih pusing lagi sikap ibuku dan&lt;br /&gt;mertuaku yang menyindir tentang keturunan. “Sudah satu tahun putra sulungku&lt;br /&gt;menikah, koq belum ada tanda-tandanya ya, padahal aku ingin sekali menimang&lt;br /&gt;cucu” kata ibuku. “Insya Allah tak lama lagi, ibu akan menimang cucu,&lt;br /&gt;doakanlah kami. Bukankahbegitu, Mas?” sahut Raihana sambil menyikut&lt;br /&gt;lenganku, aku tergagap dan mengangguk sekenanya.Setelah peristiwa itu, aku&lt;br /&gt;mencoba bersikap bersahabat dengan Raihana. Aku berpura-pura kembali mesra&lt;br /&gt;dengannya, sebagai suami betulan. Jujur, aku hanya pura-pura. Sebab bukan&lt;br /&gt;atas dasar cinta, dan bukan kehendakku sendiri aku melakukannya, ini semua&lt;br /&gt;demi ibuku. Allah Maha Kuasa. Kepura-puraanku memuliakan Raihana sebagai&lt;br /&gt;seorang istri. Raihana hamil. Ia semakin manis. Keluarga bersuka cita semua.&lt;br /&gt;Namun hatiku menangis karena cinta tak kunjung tiba. Tuhan kasihanilah&lt;br /&gt;hamba, datangkanlah cinta itu segera. Sejak itu aku semakin sedih sehingga&lt;br /&gt;Raihana yang sedang hamil tidak kuperhatikan lagi. Setiap saat nuraniku&lt;br /&gt;bertanya” Mana tanggung jawabmu!” Aku hanya diam dan mendesah sedih. “&lt;br /&gt;Entahlah, betapa sulit aku menemukan cinta” gumamku. Dan akhirnya datanglah&lt;br /&gt;hari itu, usia kehamilan Raihana memasuki bulan keenam. Raihana minta ijin&lt;br /&gt;untuk tinggal bersama orang tuanya dengan alasan kesehatan. Kukabulkan&lt;br /&gt;permintaanya dan kuantarkan dia kerumahnya. Karenarumah mertua jauh dari&lt;br /&gt;kampus tempat aku mengajar, mertuaku tak menaruh curiga ketika aku harus&lt;br /&gt;tetap tinggal dikontrakan. Ketika aku pamitan, Raihana berpesan, “Mas untuk&lt;br /&gt;menambah biaya kelahiran anak kita, tolong nanti cairkan tabunganku yang ada&lt;br /&gt;di ATM. Aku taruh dibawah bantal, nomor pinnya sama dengan tanggal&lt;br /&gt;pernikahan kita”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Raihana tinggal bersama ibunya, aku sedikit lega. Setiap hari Aku&lt;br /&gt;tidak bertemu dengan orang yang membuatku tidak nyaman. Entah apa sebabnya&lt;br /&gt;bisa demikian. Hanya saja aku sedikit repot, harus menyiapkan segalanya.Tapi&lt;br /&gt;toh bukan masalah bagiku, karena aku sudah terbiasa saat kuliah di&lt;br /&gt;Mesir.Waktu terus berjalan, dan aku merasa enjoy tanpa Raihana. Suatu saat&lt;br /&gt;aku pulang kehujanan. Sampai rumah hari sudah petang, aku merasa tubuhku&lt;br /&gt;benar-benar lemas. Aku muntah-muntah, menggigil, kepala pusing dan&lt;br /&gt;perutmual. Saat itu terlintas dihati andaikan ada Raihana, dia pasti telah&lt;br /&gt;menyiapkan air panas, bubur kacang hijau, membantu mengobati masuk angin&lt;br /&gt;dengan mengeroki punggungku, lalu menyuruhku istirahat dan menutupi tubuhku&lt;br /&gt;dengan selimut. Malam itu aku benar-benar tersiksa dan menderita. Aku&lt;br /&gt;terbangun jam enam pagi. Badan sudah segar. Tapi ada penyesalan dalam hati,&lt;br /&gt;aku belum sholat Isya dan terlambat sholat subuh. Baru sedikit terasa,&lt;br /&gt;andaikan ada Raihana tentu aku ngak meninggalkan sholat Isya, dan tidak&lt;br /&gt;terlambat sholat subuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lintasan Raihana hilang seiring keberangkatan mengajar di kampus. Apalagi&lt;br /&gt;aku mendapat tugas dari universitas untuk mengikuti pelatihan mutu dosen&lt;br /&gt;mata kuliah bahasa arab. Diantaranya tutornya adalah professor bahasa arab&lt;br /&gt;dari Mesir. Aku jadi banyak berbincang dengan beliau tentang mesir. Dalam&lt;br /&gt;pelatihan aku juga berkenalan dengan Pak Qalyubi, seorang dosen bahasa arab&lt;br /&gt;dari&lt;br /&gt;Medan. Dia menempuh S1-nya di Mesir. Dia menceritakan satu pengalaman&lt;br /&gt;hidup yang menurutnya pahit dan terlanjur dijalani. “Apakah kamu sudah&lt;br /&gt;menikah?” kata Pak Qalyubi. “Alhamdulillah, sudah” jawabku. ” Dengan orang&lt;br /&gt;mana?. “Orang Jawa”. “Pasti orang yang baik ya. Iya&lt;br /&gt;kan? Biasanya pulang&lt;br /&gt;dari Mesir banyak saudara yang menawarkan untuk menikah dengan perempuan&lt;br /&gt;shalehah. Paling tidak santriwati, lulusan pesantren. Istrimu dari&lt;br /&gt;pesantren?”. “Pernah, alhamdulillah dia sarjana dan hafal Al Quran”.&lt;br /&gt;“Kausangat beruntung, tidak sepertiku”. “Kenapa dengan Bapak?” “Aku&lt;br /&gt;melakukan langkah yang salah, seandainya aku tidak menikah dengan orang&lt;br /&gt;Mesir itu, tentu batinku tidak merana seperti sekarang”. ” Bagaimana itu&lt;br /&gt;bisa terjadi?”. “Kamu tentu tahu&lt;br /&gt;kan gadis Mesir itu cantik-cantik, dan&lt;br /&gt;karena terpesona dengan kecantikanya saya menderita seperti ini. Ceritanya&lt;br /&gt;begini, Saya seorang anak tunggal dari seorang yang kaya, saya berangkat ke&lt;br /&gt;Mesirdengan biaya orang tua. Disana saya bersama kakak kelas namanya Fadhil,&lt;br /&gt;orang&lt;br /&gt;Medan juga. Seiring dengan berjalannya waktu, tahun pertama saya&lt;br /&gt;lulusdengan predkat jayyid, predikat yang cukup sulit bagi pelajar dari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia. Demikian juga dengan tahun kedua. Karena prestasi saya, tuan&lt;br /&gt;rumah tempat saya tinggal menyukai saya. Saya dikenalkan dengan anak&lt;br /&gt;gadisnya yang bernama Yasmin. Dia tidak pakai jilbab. Pada pandangan pertama&lt;br /&gt;saya jatuh cinta, saya belum pernah melihat gadis secantuk itu. Saya&lt;br /&gt;bersumpah tidak akan menikah dengan siapapun kecuali dia. Ternyata perasaan&lt;br /&gt;saya tidak bertepuk sebelah tangan. Kisah cinta saya didengar oleh Fadhil.&lt;br /&gt;Fadhil membuat garis tegas, akhiri hubungan dengan anak tuan rumah itu atau&lt;br /&gt;sekalian lanjutkan dengan menikahinya. Saya memilih yang kedua. Ketika saya&lt;br /&gt;menikahi Yasmin, banyak teman-teman yang memberi masukan begini, sama-sama&lt;br /&gt;menikah dengan gadis Mesir, kenapa tidak mencari mahasiswi Al Azhar yang&lt;br /&gt;hafal Al Quran, salehah, dan berjilbab. Itu lebih selamat dari pada&lt;br /&gt;denganYasmin yang awam pengetahuan agamanya. Tetapi saya tetap teguh untuk&lt;br /&gt;menikahinya. Dengan biaya yang tinggi saya berhasil menikahi Yasmin. Yasmin&lt;br /&gt;menuntut diberi sesuatu yang lebih dari gadis Mesir. Perabot rumah yang&lt;br /&gt;mewah, menginap di hotel berbintang. Begitu selesai S1 saya kembali keMedan,&lt;br /&gt;saya minta agar asset yang di Mesir dijual untuk modal di Indonesia. Kami&lt;br /&gt;langsung membeli rumah yang cukup mewah di kota&lt;br /&gt;Medan. Tahun-tahun pertama&lt;br /&gt;hidup kami berjalan baik, setiap tahunnya Yasmin mengajak ke Mesir menengok&lt;br /&gt;orang tuanya. Aku masih bisa memenuhi semua yang diinginkan Yasmin. Hidup&lt;br /&gt;terus berjalan, biaya hidup semakin nambah, anak kami yang ketiga lahir,&lt;br /&gt;tetapi pemasukan tidak bertambah. Saya minta Yasmin untuk berhemat. Tidak&lt;br /&gt;setiap tahun tetapi tiga tahun sekali Yasmin tidak bisa. Aku mati-matian&lt;br /&gt;berbisnis, demi keinginan Yasmin dan anak-anak terpenuhi. Sawah terakhir&lt;br /&gt;milik Ayah saya jual untuk modal. Dalam diri saya mulai muncul penyesalan.&lt;br /&gt;Setiap kali saya melihat teman-teman alumni Mesir yang hidupdengan tenang&lt;br /&gt;dan damai dengan istrinya. Bisa mengamalkan ilmu dan bisaberdakwah dengan&lt;br /&gt;baik. Dicintai masyarakat. Saya tidak mendapatkan apa yang mereka dapatkan.&lt;br /&gt;Jika saya pengin rendang, saya harus ke warung. Yasmin tidak mau tahu dengan&lt;br /&gt;masakan&lt;br /&gt;Indonesia. Kau tahu sendiri, gadis Mesir biasanya memanggil suaminya&lt;br /&gt;dengan namanya. Jika ada sedikit letupan, maka rumah seperti neraka. Puncak&lt;br /&gt;penderitaan saya dimulai setahun yang lalu. Usaha saya bangkrut, saya minta&lt;br /&gt;Yasmin untuk menjual perhiasannya, tetapidia tidak mau. Dia malah&lt;br /&gt;membandingkan dirinya yang hidup serba kurang dengan sepupunya. Sepupunya&lt;br /&gt;mendapat suami orang Mesir. Saya menyesal meletakkan kecantikan diatas&lt;br /&gt;segalanya. Saya telah diperbudak dengan kecantikannya. Mengetahui keadaan&lt;br /&gt;saya yang terjepit, ayah dan ibu mengalah. Mereka menjual rumah dan tanah,&lt;br /&gt;yang akhirnya mereka tinggal di ruko yang kecil dan sempit. Batin saya&lt;br /&gt;menangis. Mereka berharap modal itu cukup untuk merintis bisnis saya yang&lt;br /&gt;bangkrut. Bisnis saya mulai bangkit, Yasmin mulai berulah, dia mengajak ke&lt;br /&gt;Mesir. Waktu di Mesir itulah puncak tragedy yang menyakitkan. “Aku menyesal&lt;br /&gt;menikah dengan orang&lt;br /&gt;Indonesia, aku minta kau ceraikan aku, aku tidak bisa&lt;br /&gt;bahagia kecuali dengan lelaki Mesir”. KataYasmin yang bagaikan geledek&lt;br /&gt;menyambar. Lalu tanpa dosa dia bercerita bahwatadi di KBRI dia bertemu&lt;br /&gt;dengan temannya. Teman lamanya itu sudah jadi bisnisman, dan istrinya sudah&lt;br /&gt;meninggal. Yasmin diajak makan siang, dan dilanjutkan dengan perselingkuhan.&lt;br /&gt;Aku pukul dia karena tak bisa menahan diri. Atas tindakan itu saya&lt;br /&gt;dilaporkan ke polisi. Yang menyakitkan adalah tak satupun keluarganya yang&lt;br /&gt;membelaku. Rupanya selama ini Yasmin sering mengirim&lt;br /&gt;surat yang berisi&lt;br /&gt;berita bohong. Sejak saat itu saya mengalami depresi. Dua bulan yang lalu&lt;br /&gt;saya mendapat surat cerai dari Mesir sekaligus mendapat salinan&lt;br /&gt;surat nikah&lt;br /&gt;Yasmin dengan temannya. Hati saya sangat sakit, ketika si sulung menggigau&lt;br /&gt;meminta ibunya pulang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar cerita Pak Qulyubi membuatku terisak-isak. Perjalanan hidupnya&lt;br /&gt;menyadarkanku. Aku teringat Raihana. Perlahan wajahnya terbayang dimataku,&lt;br /&gt;tak terasa sudah dua bulan aku berpisah dengannya. Tiba-tiba ada kerinduan&lt;br /&gt;yang menyelinap dihati. Dia istri yang sangat shalehah. Tidak pernah meminta&lt;br /&gt;apapun. Bahkan yang keluar adalah pengabdian dan pengorbanan. Hanya karena&lt;br /&gt;kemurahan Allah aku mendapatkan istri seperti dia. Meskipun hatiku belum&lt;br /&gt;terbuka lebar, tetapi wajah Raihana telah menyala didindingnya. Apa yang&lt;br /&gt;sedang dilakukan Raihana sekarang? Bagaimana kandungannya? Sudah delapan&lt;br /&gt;bulan. Sebentar lagi melahirkan. Aku jadi teringat pesannya. Dia ingin agar&lt;br /&gt;aku mencairkan tabungannya. Pulang dari pelatihan, aku menyempatkan ke took&lt;br /&gt;baju muslim, aku ingin membelikannya untuk Raihana, juga daster, dan pakaian&lt;br /&gt;bayi.  Aku ingin memberikan kejutan, agar dia tersenyum menyambut&lt;br /&gt;kedatanganku. Aku tidak langsung ke rumah mertua, tetapi ke kontrakan untuk&lt;br /&gt;mengambil uang tabungan, yang disimpan dibawah bantal. Dibawah kasur itu&lt;br /&gt;kutemukan kertas merah jambu. Hatiku berdesir, darahku terkesiap. Surat&lt;br /&gt;cinta siapa ini, rasanya aku belum pernah membuat&lt;br /&gt;surat cinta untuk istriku.&lt;br /&gt;Jangan-jangan ini&lt;br /&gt;surat cinta istriku dengan lelaki lain. Gila!&lt;br /&gt;Jangan-jangan istriku serong. Dengan rasa takut kubaca&lt;br /&gt;surat itu satu&lt;br /&gt;persatu. Dan Rabbi ternyata surat-surat itu adalah ungkapan hati Raihana&lt;br /&gt;yang selamaini aku zhalimi. Ia menulis, betapa ia mati-matian mencintaiku,&lt;br /&gt;meredam rindunya akan belaianku. Ia menguatkan diri untuk menahan nestapa&lt;br /&gt;dan derita yang luar biasa. Hanya Allah lah tempat ia meratap melabuhkan&lt;br /&gt;dukanya. Dan ya Allah, ia tetap setia memanjatkan doa untuk kebaikan&lt;br /&gt;suaminya. Dan betapa dia ingin hadirnya cinta sejati dariku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rabbi dengan penuh kesyukuran, hamba bersimpuh dihadapan-Mu. Lakal hamdu ya&lt;br /&gt;Rabb. Telah muliakan hamba dengan Al Quran. Kalaulah bukan karena karunia-Mu&lt;br /&gt;yang agung ini, niscaya hamba sudah terperosok kedalam jurang kenistaan.&lt;br /&gt;YaRabbi, curahkan tambahan kesabaran dalam diri hamba” tulis Raihana. Dalam&lt;br /&gt;akhir tulisannya Raihana berdoa” Ya Allah inilah hamba-Mu yang kerdil penuh&lt;br /&gt;noda dan dosa kembali datang mengetuk pintumu, melabuhkan derita jiwa ini&lt;br /&gt;kehadirat-Mu. Ya Allah sudah tujuh bulan ini hamba-Mu ini hamil penuh derita&lt;br /&gt;dan kepayahan. Namun kenapa begitu tega suami hamba tak mempedulikanku dan&lt;br /&gt;menelantarkanku. Masih kurang apa rasa cinta hamba padanya. Masih kurang apa&lt;br /&gt;kesetiaanku padanya. Masih kurang apa baktiku padanya? Ya Allah, jika memang&lt;br /&gt;masih ada yang kurang, ilhamkanlah pada hamba-Mu ini cara berakhlak yang&lt;br /&gt;lebih mulia lagi pada suamiku. Ya Allah, dengan rahmatMu hamba mohon jangan&lt;br /&gt;murkai dia karena kelalaiannya. Cukup hamba saja yang menderita. Maafkanlah&lt;br /&gt;dia, dengan penuh cinta hamba masih tetap menyayanginya. Ya Allah berilah&lt;br /&gt;hamba kekuatan untuk tetap berbakti dan memuliakannya. Ya Allah, Engkau maha&lt;br /&gt;Tahu bahwa hamba sangat mencintainya karena-Mu. Sampaikanlah rasa cinta ini&lt;br /&gt;kepadanya dengan cara-Mu. Tegurlah dia dengan teguran-Mu. Ya Allah&lt;br /&gt;dengarkanlah doa hamba-Mu ini. Tiada Tuhan yang layak disembah kecuali&lt;br /&gt;Engkau, Maha Suci Engkau”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa air mataku mengalir, dadaku terasa sesak oleh rasa haru yang&lt;br /&gt;luarbiasa. Tangisku meledak. Dalam tangisku semua kebaikan Raihana&lt;br /&gt;terbayang. Wajahnya yang baby face dan teduh, pengorbanan dan pengabdiannya&lt;br /&gt;yang tiada putusnya, suaranya yang lembut, tanganya yang halus bersimpuh&lt;br /&gt;memeluk kakiku, semuanya terbayang mengalirkan perasaan haru dan cinta.&lt;br /&gt;Dalam keharuan terasa ada angin sejuk yang turun dari langit dan merasuk&lt;br /&gt;dalam jiwaku. Seketika itu pesona Cleopatra telah memudar berganti cinta&lt;br /&gt;Raihana yang datang di hati. Rasa sayang dan cinta pada Raihana tiba-tiba&lt;br /&gt;begitu kuat mengakar dalam hatiku. Cahaya Raihana terus berkilat-kilat&lt;br /&gt;dimata. Aku tiba-tiba begitu merindukannya. Segera kukejar waktu untuk&lt;br /&gt;membagi cintaku dengan Raihana. Kukebut kendaraanku. Kupacu kencang seiring&lt;br /&gt;dengan airmataku yang menetes sepanjang jalan. Begitu sampai di halaman&lt;br /&gt;rumah mertua, nyaris tangisku meledak. Kutahan dengan nafas panjang dan&lt;br /&gt;kuusap airmataku. Melihat kedatanganku, ibu mertuaku memelukku dan menangis&lt;br /&gt;tersedu-sedu. Aku jadi heran dan ikut menangis. ” Mana Raihana Bu?”. Ibu&lt;br /&gt;mertua hanya menangis dan menangis. Aku terus bertanya apa sebenarnya yang&lt;br /&gt;telahterjadi.” Raihana istrimu..istrimu dan anakmu yang dikandungnya”. “&lt;br /&gt;Ada&lt;br /&gt;apa dengan dia”. “Dia telah tiada”. “Ibu berkata apa!”. ” Istrimu telah&lt;br /&gt;meninggal seminggu yang lalu. Dia terjatuh di kamar mandi. Kami membawanya&lt;br /&gt;ke rumah sakit. Dia dan bayinya tidak selamat. Sebelum meninggal, dia&lt;br /&gt;berpesan untuk memintakan maaf atas segala kekurangan dan kekhilafannya&lt;br /&gt;selama menyertaimu. Dia meminta maaf karena tidak bisa membuatmu bahagia.&lt;br /&gt;Dia meminta maaf telah dengan tidak sengaja membuatmu menderita. Dia minta&lt;br /&gt;kau meridhionya”. Hatiku bergetar hebat. “Kenapa ibu tidak memberi kabar&lt;br /&gt;padaku?”. “Ketika Raihana dibawa ke rumah sakit, aku telah mengutus&lt;br /&gt;seseorang untukmenjemputmu di rumah kontrakan, tapi kamu tidak ada.&lt;br /&gt;Dihubungi ke kampus katanya kamu sedang mengikuti pelatihan. Kami tidak&lt;br /&gt;ingin mengganggumu. Apalagi Raihana berpesan agar kami tidak mengganggu&lt;br /&gt;ketenanganmu selama pelatihan. Dan ketika Raihana meninggal kami sangat&lt;br /&gt;sedih, Jadi maafkanlah kami”. Aku menangis tersedu-sedu. Hatiku pilu. Jiwaku&lt;br /&gt;remuk. Ketika aku merasakan cinta Raihana, dia telah tiada. Ketika aku ingin&lt;br /&gt;menebus dosaku, dia telah meninggalkanku. Ketika aku ingin memuliakannya dia&lt;br /&gt;telah tiada. Dia telah meninggalkan aku tanpa memberi kesempatan padaku&lt;br /&gt;untuk sekedar minta maaf dan tersenyum padanya. Tuhan telah menghukumku&lt;br /&gt;dengan penyesalan dan perasaan bersalah tiada terkira. Ibu mertua mengajakku&lt;br /&gt;ke sebuah gundukan tanah yang masih baru dikuburan pinggir desa. Diatas&lt;br /&gt;gundukan itu ada dua buah batu nisan. Nama dan hari wafat Raihana tertulis&lt;br /&gt;disana. Aku tak kuat menahan rasa cinta, haru, rindu dan penyesalan yang&lt;br /&gt;luar biasa. Aku ingin Raihana hidup kembali. Dunia tiba-tiba gelap semua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :Buku: Pudarnya Pesona Cleopatra ( Novel Psikologi Islam Pembangun&lt;br /&gt;Jiwa )&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7317681484161636078-3179534271836143018?l=puisibahasauniversal.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puisibahasauniversal.blogspot.com/feeds/3179534271836143018/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7317681484161636078&amp;postID=3179534271836143018' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7317681484161636078/posts/default/3179534271836143018'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7317681484161636078/posts/default/3179534271836143018'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puisibahasauniversal.blogspot.com/2008/05/pudarnya-pesona-cleopatra.html' title='PUDARNYA PESONA CLEOPATRA'/><author><name>puisi sebuah bahasa universal</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_Ou5tei3QShg/SDvR2bJWZ-I/AAAAAAAAAAc/dBty1r1GHAo/S220/w4_800.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7317681484161636078.post-3113389683669863159</id><published>2008-05-27T01:13:00.000-07:00</published><updated>2008-05-27T01:29:31.459-07:00</updated><title type='text'>PUISI BAHASA UNIVERSAL</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Puisi selama ini dikenal sebagai sebuah karya yang boleh dinikmati oleh kalangan tertentu. Terkadang apa atau mereka yang menikmati puisi itu sendiri sering mendapatkan suatu tempat yang kurang mendapatkan kesan bagi orang lain.&lt;br /&gt;Namun sadarkah mereka yang mengatakan puisi hanya dinikmati untuk kalangan eksekutif atau kalangan tertentu&lt;br /&gt;Padahal puisi bisa dinikmati semua orang tergantung apa yang dikehendaki orang tersebut seperti mereka yang menikmati puisi karena strukturnya yang halus seperti bahasa atau unsur ekstrinsik dan intrinsik puisi itu sendiri. Seperti puisi Taufik Ismail yang sangat mempesona jutaan pasang mata atau puisinya Chairil Anwar yang sangat sarat dengan nilai kemanusiaan.&lt;br /&gt;Lalu mengapa kita masih menganggap puisi itu adalah suatu hal yang harus dinikmati banyak orang namun memiliki kesan hanya bisa dinikmati sebagian orang&lt;br /&gt;Rasanya sangat tidak adil jika puisi harus dinikmati segelintir orang eksekutif yang memiliki cita rasa tinggi&lt;br /&gt;Ingat apa yang dikatakan seorang guru seni di sebuah SMA di kabupaten Bandung&lt;br /&gt;Seni harus dinikmati semua orang bukan dinikmati sebagian orang tapi semua umat manusia yang ada di bumi ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ini ada sebuah cuplikan puisi yang bersumber dari majalah percikan iman selamat menikmati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You, the one that I love&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You, the one that I love&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You come in every breath that I take&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shed the beat of life in my whole body&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You, the one that I love&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It seems impossible to live this life&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Without you with me&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You, the one that I love&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I will nurse you, the best that I can&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As long as you are still alive with me&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You, the one that I love&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I will not let anyone touch you&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But the doctors, of course&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; You, the one that I love&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sincerely I love you&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Till the death comes to separate us&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You, the one that I love&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I will not let the thick smoke bother you&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;That will make you ill and suffering&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You, the one that I love&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This togetherness is a limitless bliss&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In which I always be thankful&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You, the one that I love&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Please say yes to this sincere love&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Because you are …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My lungs&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duhai engkau yang kucinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duhai engkau yang kucinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dirimu hadir di setiap tarikan nafasku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alirkan denyut kehidupan dalam ragaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duhai engkau yang kucinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya mustahil kujalani hidup ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa adanya engkau bersamaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duhai engkau yang kucinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kan kujaga dirimu, terbaik yang kumampu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asalkan engkau tetap hidup bersamaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duhai engkau yang kucinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak kubiarkan siapa pun menyentuhmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecuali Pak dokter dan Ibu dokter, tentu saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duhai engkau yang kucinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setulus hati aku cinta padamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga ajal datang memisahkan kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duhai engkau yang kucinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak kubiarkan asap pekat itu mengganggumu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membuatmu sakit dan menderita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duhai engkau yang kucinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebersamaan ini adalah nikmat tak terkira&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dengannya aku senantiasa bersyukur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duhai engkau yang kucinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terimalah persembahan cinta suci ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena engkau adalah …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paru-paruku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah bagaimana menurut anda semua. Apakah anda semua berpikiran sama dengan saya jika puisi itu adalah suatu karya seni universal seperti karya seni lainnya&lt;br /&gt;Jika anda berpikiran sama maka sangatlah beruntung anda dengan saya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7317681484161636078-3113389683669863159?l=puisibahasauniversal.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puisibahasauniversal.blogspot.com/feeds/3113389683669863159/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7317681484161636078&amp;postID=3113389683669863159' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7317681484161636078/posts/default/3113389683669863159'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7317681484161636078/posts/default/3113389683669863159'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puisibahasauniversal.blogspot.com/2008/05/puisi-bahasa-universal.html' title='PUISI BAHASA UNIVERSAL'/><author><name>puisi sebuah bahasa universal</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_Ou5tei3QShg/SDvR2bJWZ-I/AAAAAAAAAAc/dBty1r1GHAo/S220/w4_800.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
